Nilai Penting Status Ekosistem Pesisir Indonesia

 
 
Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki ekosistem pesisir yang berperan penting. Tidak hanya melindungi garis pantai dari abrasi tetapi juga mendukung sektor ekonomi bagi masyarakat lokal. Kerusakan ekosistem pesisir dapat berdampak pada produksi perikanan dan sektor ekowisata yang menyebabkan terganggunya perekonomian nasional.  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Oseanografi telah memantau ekosistem pesisir di seluruh perairan Indonesia yang hasilnya akan di sampaikan pada webinar “Status Ekosistem Pesisir di Indonesia dan Pengelolaannya”, Selasa, 30 Juni 2020 melalui live streaming Youtube mulai pukul 09.00 WIB.
 
Jakarta,29 Juni 2020. Pemantauan ekosistem pesisir yang dilakukan LIPI mencakup 3,1 persen perairan Indonesia. Terdiri dari terumbu karang, padang lamun dan hutan bakau. Wilayahnya  tidak hanya di kawasan konservasi laut, tetapi juga di kota-kota besar dan tempat-tempat terpencil.

“Oleh karena itu, sangat penting untuk menginformasikan status ekosistem pesisir serta trennya sehingga para pembuat kebijakan dapat mengatasi masalah-masalah yang mungkin berbeda di antara wilayah-wilayah tersebut,” jelas Plt. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI, Agus Haryono.
 
Agus menyatakan, Indonesia adalah bagian dari wilayah segitiga karang, keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. “Tercatat ada 569 spesies yang termasuk pada 83 genus karang berbatu. Angka  tersebut  mewakili 69 persen jumlah spesies karang di dunia,” jelas Agus.

Dirinya menjabarkan dari jumlah tersebut ada beberapa spesies endemik yang ditemukan hanya di wilayah Indonesia yaitu Acropora suharsonoi (Lombok), Euphyllia baliensis (Bali), Indophyllia macassarensis (Makassar), dan Isopora togianensis (Togean).
 
Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Tri Aryono Hadi, menyebutkan, berdasarkan data tahun 2019 dari 1153 lokasi terumbu karang tercatat 33,82 persen (390 lokasi) berkategori buruk, 37,38 persen (431 lokasi) berkategori sedang, dan 22,38 persen berkategori baik (258 lokasi). “Hanya 6,42 persen atau 74 lokasi terumbu karang yang berkategori sangat baik,” terang Tri.
 
Untuk kondisi padang lamun, Susi Rahmawati dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI yang melakukan pemantauan ekosistem padang lamun 2018-2019 menyimpulkan padang lamun di Indonesia umumnya memiliki komposisi multispesies, dengan tujuh hingga sembilan spesies lamun. “Padang lamun di Indonesia memiliki kelimpahan yang relatif sedang dengan tutupan anatar 30-40 persen,” tuturnya.

Hasil pemantauan juga memperlihatkan padang lamun di bagian timur Indonesia umumnya lebih tinggi dalam persen tutupan dan kekayaan spesies daripada padang lamun di bagian barat Indonesia.
 
Sedangkan untuk ekosistem mangrove, peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, I Wayan Dharmawan menjelaskan, hasil pemantauan hutan bakau selama 2015-2019 menunjukkan bahwa hutan bakau Indonesia dikategorikan dalam kondisi baik. “Ada sedikit peningkatan pada rata-rata cakupan kanopinya,” jelasnya.

Dirinya mengungkapkan, pesisir Indonesia memiliki ekosistem mangrove terluas di dunia. “Indonesia menyumbang 22,6 persen dari total luasan ekosistem mangrove dunia,” tutupnya.
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Eng. Agus Haryono
Diakses : 1472    Dibagikan :