Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Hayati ASEAN lewat Pangan Fungisonal

 
 
Makanan bersifat universal. Dengan keanekaragaman hayati dan budaya yang serumpun, negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) memiliki kebutuhan pangan serta kebiasaan terkait makanan yang relatif sama. Oleh karena itu, masalah dan solusi pangan di ASEAN juga akan serupa. Diskusi dan pertukaran informasi tentang masalah dan solusi pengembangan pangan sangat penting di tingkat regional. Tahun ini, Indonesia akan menjadi tuan rumah Konferensi Pangan ASEAN (ASEAN Food Conference) yang akan diadakan pada 15-18 Oktober 2019 di Denpasar, Bali.
 
Denpasar, 16 Oktober 2019. Indonesia sebagai salah satu negara mega biodiversity di dunia dikaruniai keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. “Keanekaragaman hayati ini berpotensi untuk dimanfaatkan menjadi sumber pangan fungsional bagi peningkatan kesehatan juga kesejahteraan masyarakat,” ujar Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Agus Haryono.

Dirinya menjelaskan, dengan  wilayah geografis dan iklim yang sama negara-negara ASEAN memanen kurang lebih manfaat yang sama dari daratan dan lautan yang mengelilingi negara-negara tersebut. “Apa yang tumbuh dengan baik di satu negara ASEAN juga tumbuh dengan baik di negara lainnya. Beras, kelapa, tapioka, sagu, jahe, kunyit, asam, cabai, mint, ketumbar, serai, pandan, durian, mangga dan sebagainya adalah contoh makanan yang hampir dapat dijumpai setiap negara anggota ASEAN,” ungkap Agus.

Menurut Agus, saat ini LIPI sedang memfokuskan riset pada penguasaan teknologi kunci untuk pengolahan pangan fungsional. “Beberapa hasilnya sudah dimanfaatkan oleh UMKM untuk peningkatan pendapatan para petani lokal,” ujar Agus.

ASEAN Food Conference pertama kali diadakan di Singapura pada tahun 1982 dan sejak itu menjadi kegiatan rutin bersama setiap dua atau tiga  tahun sekali yang diadakan oleh ASEAN Committee on Science and Technology (COST), The Federation of Food Science and Technology Institutes (FIFSTA), dan institusi tuan rumah.  Untuk tahun ini AFC diselenggarakan oleh ASEAN COST, FIFSTA bekerja sama dengan International Union of Food Science and Technology (IuFOST ), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia(LIPI) selaku focal point ASEAN COST, Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI), Universitas Udayana, Institut Pertanian Bogor (IPB),  dan SELAMAT, Belanda.

Konferensi ini akan menampilkan serangkaian acara mencakup pembicara kunci dalam sesi pleno, presentasi oral dan poster, pre-conference workshop, Food Quiz Bowl, ASEAN Best Food Product Display, dan graduate student research paper competition. Konferensi direncanakan akan dibuka oleh  Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir dan Gubernur Bali, I Wayan Koster.

Sejumlah pembicara kunci dari berbagai negara akan membawakan makalah terkait pangan seperti Prof. Dr Aman Wirakartakusumah (IPB , Indonesia), Prof. Dr Mary K. Schimdl (President of IUFoST , Amerika), Prof. Dr. Kenji Sato (Kyoto University, Jepang), Dr. Hans Marvin dan Prof. Rijkelt Beumer (Wageningen University, Belanda), Prof. Dr. Weibiao Zhou (National University of Singapore, Singapura), Prof. Dr. Made S. Utama (Universitas Udayana, Indonesia), Dr. Koh Yew Ming (AMIC, MJMM Malaysia) dan Dr. Teresa Crespo (Instituto de Biologia Experimental e Tecnológica, Portugal).
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Eng. Agus Haryono
Diakses : 700    Dibagikan :