Pendekatan Multi Dimensi dalam Penanganan Banjir di Jabodetabek

 
 
Posisi geografis dan topografi, ditambah dengan dampak pembangunan kota, membuat daerah Jabodetabek dan sekitarnya rentan terhadap banjir. Perubahan iklim, frekuensi hujan yang bertambah, dan cuaca ekstrim menambah resiko bencana banjir dan longsor menjadi lebih buruk dengan dampak yang lebih luas, dan kerugian yang lebih besar. Kendati demikian, banjir tidak dapat hanya dilihat sebagai bencana alam. Perlu adanya pendekatan multi dimensi yang mencakup aspek hidrologi dan ekologi manusia dalam penanganan banjir di Jabodetabe. Pernyataan para pakar terkait hal tersebut akan disampaikan dalam Media Briefing “Banjir Ibu Kota: Potret Aspek Hidrologi dan Ekologi Manusia” yang akan diselenggarakan pada Selasa, 7 Januari di Jakarta.
 
Jakarta, 7 Januari. Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) mengumumkan data terakhir jumlah korban meninggal akibat banjir dan longsor di Jabodetabek, Banten, dan Jawa Barat per tanggal 4 Januari mencapai 60 orang dan 2 orang masih hilang. Sebanyak 409 jiwa menjadi korban terdampak banjir dan longsor dan lebih dari 173 ribu jiwa terpaksa tinggal di pengungsian. Laporan Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Minggu (5/1) menunjukkan bahwa cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di beberapa wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan. 

Selama periode waktu 31 Januari 2019 - 1 Januari 2020, curah hujan kategori ekstrim (>150 mm/hari) telah dominan terjadi di wilayah DKI Jakarta yang belum pernah terjadi sebelumya sejak tahun 1990-an, sedangkan sebaran curah hujan di daerah penyanggga seperti wilayah Bogor dan Depok didominasi dengan kategori hujan lebat. “Kontribusi hujan ekstrim lokal di wilayah Jakarta, aliran banjir dari daerah hulu, dan kondisi pasang muka air laut telah mempengaruhi mekanisme banjir 2020,” ungkap Kepala Pusat Penelitian Limnologi LIPI, Fauzan Ali.  

Peneliti Pusat Penelitian Limnologi LIPI, M. Fakhrudin menyebutkan, perubahan lahan yang berlangsung cepat menyebabkan kemampuan daya resap sistem Daerah Aliran Sungai di Jabodetabek terhadap air hujan menjadi menurun. “Hal ini menyebabkan proporsi jumlah air hujan yang dikonversi langsung menjadi aliran permukaan atau direct run-off akan cenderung terus meningkat,” ujarnya. 

Peneliti Pusat Penelitian Kebijakan dan Manajemen Iptek dan Inovasi LIPI, Galuh Syahbana Indrapahasta, mengungkapkan bencana banjir di Jabodetabek menunjukkan tidak terkelolanya tiga aspek yang saling berkaitan, yaitu teknis, ekologi, dan sosial. “Persoalan infrastruktur tentu menjadi salah satu bagian penting dari upaya untuk memitigasi banjir di Jakarta. Namun, dua aspek lainnya juga perlu diintervensi sehingga menghasilkan sistem ruang yang mempunyai resiliensi yang lebih baik terhadap banjir,” ujar Galuh. 

Menurut Galuh, penurunan kualitas ekologi Jabodetabek secara umum dapat dilihat dari terkonversinya lahan-lahan hijau menjadi ruang terbangun. “Sedangkan aspek sosial dapat meliputi peningkatan resiliensi masyarakat serta upaya perubahan perilaku masyarakat sehingga menghasilkan perilaku yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

Gusti Ayu Surtiari, peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, menyebut adaptasi yang transformatif perlu dilakukan untuk dapat menghadapi banjir. “Adaptasi dapat dilakukan dengan mengurangi keterpaparan atau meningkatkan kapasitas menghadapi banjir, atau menurunkan sensitifitasnya,” ujarnya.

Dirinya menambahkan adaptasi ini harus dilakukan di semua level masyarakat mulai dari individu, regional, hingga nasional. “Masing-masing level memiliki rasionalitas untuk mengambil keputusan atas tindakan yang akan dilakukan. Seluruh level tersebut harus sinergis dan tidak saling menghambat satu dengan yang lain. Misalnya, adaptasi di tingkat pemerintah tidak menghambat adaptasi oleh individu atau rumah tangga,” pungkasnya.  


Sivitas Terkait : Yani Ruhyani
Diakses : 2420    Dibagikan :