Pengembangan Produk Pangan Fungsional dari Rumput Laut dan Teh untuk Cegah Stunting dan Obesitas

 
 
Tumbuh kembang anak menjadi elemen penting dalam penyiapan sumber daya manusia unggul yang mendukung pembangunan Indonesia. Sayangnya, angka stunting di Indonesia masih belum memenuhi standar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meski angka prevelensi stunting berhasil turun. Di lain sisi,  permasalahan obesitas juga perlu mendapat perhatian karena angkanya termasuk tinggi di Indonesia. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Kimia mengembangkan produk pangan fungsional untuk memenuhi kebutuhan gizi yang akan ditampilkan dalam kegiatan media visit pada Kamis, 10 Oktober 2019 di Serpong, Tangerang Selatan.
 
Serpong, 10 Oktober 2019. Masih tingginya prevalensi stunting di Indonesia bukan perkara mudah untuk diselesaikan. Perlu upaya perbaikan yang bertujuan untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara langsung (intervensi gizi spesifik) serta upaya untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara tidak langsung.

Salah satu cara untuk mencegah stunting adalah dengan memperbaiki sistem imun atau kekebalan tubuh dalam tubuh anak. Caranya adalah dengan mengkonsumsi pangan fungsional yang dapat meningkatkan sistem imun tubuh. “Pangan tersebut beragam dan mengandung berbagai vitamin dan mineral. Potensi pangan di Indonesia sangat kaya dan melimpah, bisa berasal dari pertanian, perkebunan, peternakan, dan kelautan,” jelas Pelaksana Tugas Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, Raden Arthur Ario Lelono.

Salah satu pangan yang berfungsi sebagai senyawa alami untuk meningkatkan kekebalan tubuh adalah Caulerpa lentilifera atau rumput laut hijau. Pangan ini dapat dimakan sebagai lalapan serta sudah dibudidayakan di Indonesia, yakni di Takalar, Sulawesi Selatan. “Kami mengembangkan rumput laut ini dmenjadi produk biskuit yang berfungsi sebagai penguat sistem imun bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Farmasi dan Kementerian Kelautan dan Perikanan,” jelas Arthur.

Asupan gizi yang optimal juga dapat dilakukan untuk pencegahan stunting. Salah satu nutrisi yang penting adalah asam folat yang merupakan vitamin penting untuk tumbuh kembang bayi semasa dalam kandungan dan anak-anak. “LIPI melakukan formulasi dan identifikasi asam folat dari campuran nikstamal jagung , bayam dan brokoli terfermentasi, dan tempe kedelai dan kacang hijau,” ungkap Arthur. Dirinya menjelaskan, formulasi tersebut diaplikasikan pada pembuatan pangan fungsional berupa biskuit, bubur dan sup bayi dengan variasi jenis dan konsentrasi fortifikan yang berbeda dalam formulasi produk makanan pendamping ASI.

Kekayaan alam Indonesia lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan nutrisi adalah teh. “Teh sangat baik untuk diet, selain itu berfungsi sebagai antioksidan, penurun kolesterol, peningkat metabolisme tubuh, penjaga kesehatan tulang, dan pencegah diabetes,” terang Arthur. Saat ini LIPI mengembangkan produk klon unggul teh seri Gambung. “Teh ini berpolifenol tinggi cocok digunakan sebagai bahan baku minuman fungsional untuk menurunkan risiko obesitas.”

Agar nikmat dikonsumsi, dilakukan proses fortifikasi dengan rasa lebih baik dan bisa dikonsumsi rutin layaknya teh pada umumnya. “Daun salam ditambahkan sebagai  salah satu pengawet alami serta kayumanis untuk meningkatkan keterterimaan rasa dari konsumen,” ujar Arthur.

LIPI juga  mengembangkan minuman formulasi sayuran dan buah pisang yang difermentasi sebagai penurun kolesterol dan penunjang kesehatan dalam bentuk kombucha. “Produk minuman ini sangat potensial dikembangkan di Indonesia karena bahan bakunya mudah didapat, yakni katuk dan aneka jenis pisang. Target kami produk-produk pangan fungsional ini bisa masuk ke skala industri,” tutup Arthur.
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Raden Arthur Ario Lelono Ph.D.
Diakses : 1150    Dibagikan :