Rizobakteri Miliki Peran Penting dalam Memacu Peningkatan Hasil Pertanian

 
 
Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR) atau kerap disebut Rizobakteri merupakan bakteri yang berkoloni dengan perakaran dan mendukung kekebalan, pertumbuhan dan perkembangan tanaman berkat kemampuannya dalam menghasilkan zat pengatur tumbuh (ZPT). Selain itu, ia juga menjadi biokatalis untuk mendukung tersedianya NPK dan asam-asam organik penting lainnya bagi tanaman. PGPR sebagai agen pelestarian lingkungan menjaga biodiversitas mikroba perakaran guna mendukung pertanian ramah lingkungan yang dapat meningkatkan hasil pertanian. Menyadari pentingnya PGPR dalam mendukung pertanian berkelanjutan, Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama dengan Asian PGPR mengupasnya dalam kegiatan The 5th Asian Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR) Conference 2017.
 
Jakarta, 17 Juli 2017. Kegiatan pertanian dan industri berbasis sumber daya alam menjadi landasan pertumbuhan ekonomi banyak negara di Asia. Di permukaan bumi, lahan yang cocok untuk pertanian sekitar 11%, namun sayangnya sekitar 38% dari lahan tersebut telah terdegradasi akibat kesalahan praktik pengelolaan sumber daya alam. Dengan keadaan ini atau terbatasnya ruang untuk memperluas area budidaya, maka manajemen lahan yang baik sangat diperlukan.
 
“Manajemen yang dibutuhkan adalah agar bisa mempertahankan produktivitas pertanian, menjamin pertumbuhan ekonomi, dan melindungi keanekaragaman hayati sebagai pemenuhan atas tuntutan kebutuhan pangan dunia,” ujar Sarjiya Antonius, Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI. Dikatakannya, pertanian berkelanjutan yang mengintegrasikan kesehatan lingkungan serta kelayakan ekonomi diperlukan untuk menunjang upaya jangka panjang peningkatan produktivitas sumber daya alam, sehingga mampu menunjang kualitas penghidupan ke depan.
 
Salah satu upaya untuk mempertahankan produktivitas pertanian ini adalah dengan pengaplikasian dan komersialisasi PGPR. Aplikasi dan komersialisasi PGPR untuk kepentingan pertanian berkelanjutan saat ini berkembang mendunia. Karena sudah mendunia ini, Anton, panggilan akrab Sarjiya Antonius, menuturkan bahwa perlu ada kesadaran bersama dalam penataan dan pemanfaatan sumber daya biologi tersebut. Dari sini, konferensi Asian-PGPR menjadi penting untuk dilaksanakan.
 
Konferensi Asian-PGPR diharapkan mengoptimalkan komunikasi dan pertukaran informasi hasil-hasil riset sehingga dapat dibangun kerja sama antara berbagai instansi, baik dalam dan luar negeri. Konferensi ini akan menghadirkan berbagai komponen disiplin ilmu dan enterpreneur tingkat internasional agar berpartisipasi secara aktif dalam menetapkan strategi pencapaian ketahanan pangan yang berkelanjutan secara global. Konferensi dengan topik manfaat biodiversitas mikroorganisme sebagai pilar pembangunan pertanian berkelanjutan dalam mendukung ketahanan pangan ini digelar di IPB International Convention Center Bogor, pada 16 – 19 Juli 2017.
 
Konferensi tersebut dihadiri oleh sekitar 250 peserta dari 13 negara di Asia, antara lain Indonesia, India, China, Taiwan, Korea, Pakistan, Kazakhstan, Jepang, Filipina, Malaysia, Saudi Arabia, Iran dan Hongkong. Selain itu, ada pula negara di luar Asia yang turut berpartisipasi, seperti Amerika Serikat, Jerman, Italia, Australia, Austria, Kanada dan Trinidad & Tobago. “Kami juga berharap hilirisasi riset PGPR pada skala industri kecil maupun besar, serta pemanfaatannya secara global dapat tercapai nantinya. Salah satunya lewat konferensi ini,” pungkas Anton.
 
Keterangan Lebih Lanjut:
- Sarjiya Antonius (Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI)
- Isrard (Kepala Bagian Humas, Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas LIPI)


Sumber: Pusat Penelitian Biologi LIPI
Penulis: msa
Editor: pwd, isr

Siaran pers ini disiapkan oleh Humas LIPI
 
 
Sumber : Biro Kerja sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr.rer.nat Sarjiya Antonius