Salah Menganalisa Data, Dosen Viralkan Peneliti LIPI Tidak Produktif

 
 
Menduga adanya kesenjangan dana penelitian antara dosen dan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Armstrong F. Sompotan, Dosen sebuah perguruan tinggi negeri,  memviralkan perbandingan produktivitas antara dosen dan peneliti LIPI melalui media sosial. Informasi yang disampaikan tersebut telah menimbulkan persepsi negatif masyarakat terhadap pemakaian anggaran dana penelitian LIPI,  yang sebetulnya juga dialokasikan terbatas dalam APBN.
 
Jakarta, 28 Februari 2017. Kegalauan Armstrong F. Sompotan, Dosen Universitas Negeri Manado, terhadap kewajiban publikasi global bagi Lektor Kepala dan Profesor di Perguruan Tinggi sesuai Permenristekdiktti No 20/2017 telah menjadi viral di komunitas ilmiah tanah air. Kegalauan ini didikotomikan dengan klaim keterbatasan dana penelitian bagi dosen dibandingkan dengan alokasi dana penelitian untuk peneliti LIPI bersumberkan data dan berita yang diperoleh melalui internet.
 
Armstrong, yang dalam tulisannya menyebutkan dirinya juga sebagai Ketua Umum Ikatan Dosen Republik Indonesia (IDRI) mengatakan, dosen dengan Tri Dharma-nya jauh lebih produktif dibandingkan peneliti LIPI yang hanya memiliki kewajiban meneliti.
 
Apa yang disampaikan Armstrong di media sosial dikhawatirkan oleh Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, L. T. Handoko akan menimbulkan salah persepsi di masyarakat atas kinerja LIPI, serta relasi Lembaga Pemerintah non Kementerian (LPNK) Litbang seperti LIPI dengan Perguruan Tinggi. LPNK Litbang dan Perguruan Tinggi terus berupaya menjalin sinergi, dan keduanya dibutuhkan untuk pengembangan iptek di tanah air di tengah keterbatasan sumber daya penelitian. “Sayangnya apa yang disimpulkan tidak berdasarkan analisa yang cermat dan cenderung melupakan prinsip kehati-hatian dalam membaca data dan informasi yang diperolehnya,” keluh Handoko.
 
Berdasarkan data pada Sistem Informasi Kepegawaian (Simpeg) LIPI jumlah peneliti LIPI hanya 1.665 orang. Sedangkan, jumlah  9.128 yang disebutkan Armstrong itu sebetulnya adalah jumlah keseluruhan PNS dengan fungsional peneliti secara nasional yang tersebar di berbagai kementerian dan lembaga, dengan LIPI sebagai instansi pembinanya.
 
Anggaran LIPI sejumlah Rp. 1,1662 Triliun  (Rp 1,1 Triliun, red) adalah anggaran total LIPI. Termasuk untuk gaji seluruh pegawai, pemeliharaan dan pembangunan fisik gedung, pengelolaan kebun raya, dan sebagainya. Sedangkan untuk dana penelitian hanya sekitar Rp. 300 Milyar, ungkap Handoko. Anggaran tersebut juga untuk pemeliharaan dan pemakaian berbagai infrastruktur riset yang disediakan LIPI untuk publik sebagaimana bisa diakses di http://layanan.lipi.go.id. Sebagian infrastruktur ini bisa dimanfaatkan akademisi dan industri tanah air dengan cuma-cuma, dan sebagian lagi cuma-cuma bila berkolaborasi dengan peneliti LIPI.  
 
Demikian juga halnya jumlah publikasi dosen ITS dan ITB yang dipaparkan Armstrong adalah keseluruhan akumulasi publikasi terindeks. Untuk ITS (berdiri tahun 1957) tercatat sejak 1961, dan ITB (berdiri tahun 1959) sejak 1965. Sedangkan LIPI sendiri baru berdiri pada tahun 1967 dengan tahun awal terindeks jauh setelahnya, sehingga akumulasi publikasi tidak bisa dibandingkan begitu saja. Sebagai informasi, jumlah publikasi terindeks global di Indonesia pada 2016 hanya sembilan ribuan. Sedangkan akumulasi sitasi terhadap publikasi peneliti LIPI tahun 2016 malah mencapai 126.738 sebagai yang tertinggi di Indonesia, ungkap Handoko. Dari sisi produktifitas inovasi, LIPI juga menjadi pendaftar paten dan hak cipta perangkat lunak terbesar di Indonesia setiap tahunnya, dengan puncaknya 81 paten pada 2016.
 
Lebih lanjut Handoko mengungkapkan, nampaknya Armstrong rancu dengan menyebut Kawasan Puspiptek di Serpong dengan menyebut Puspiptek - LIPI. Sejatinya tidak ada kaitan langsung antara anggaran di Sekjen Kemristekdikti yang menaungi Puspiptek, karena di dalam kawasan ada banyak pusat penelitian dari berbagai LPNK seperti BATAN dan BPPT. Setiap pusat penelitian di Puspiptek tersebut menginduk pada LPNK masing-masing, termasuk dalam aspek anggaran.
 
Armstrong kurang cermat membaca sumber data dan berita untuk membandingkan produktivitas dosen dan peneliti dan menyimpulkannya secara salah. “Akibatnya bagi LIPI informasi yang diviralkan tersebut telah menimbulkan persepsi negatif masyarakat, khususnya dikalangan akademisi nasional, terhadap dana penelitian dan produktivitas peneliti LIPI dalam memanfaatkan dana APBN,” ungkap Peneliti LIPI, Trina Fizzanty.
 
Handoko menghimbau dalam situasi keterbatasan sumber daya iptek di Indonesia, seluruh pihak seharusnya fokus mencari upaya peningkatan sinergi. Tri Dharma adalah tugas Perguruan Tinggi, tetapi di level dosen secara umum cukup dengan Dwi Dharma, yaitu pendidikan tinggi dan penelitian. Pendidikan tinggi dan penelitian ini merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan dan saling mendukung. Penelitian tidak akan berjalan tanpa adanya sumber daya manusia muda dari kalangan mahasiswa, sebaliknya pendidikan tinggi tanpa penelitian hanya seperti pengajaran di SMA dengan materi yang lebih sulit. Sejak awal LIPI berupaya untuk menarik mahasiswa melakukan penelitiannya di pusat-pusat penelitian LIPI, karena meyakini bahwa keberadaan mahasiswa penting untuk meningkatkan dinamika penelitian. Sehingga “kewajiban” melakukan tugas pendidikan bagi dosen tidak seharusnya menjadi alasan tidak melakukan penelitian, tetapi seharusnya menjadi keuntungan yang tidak dimiliki oleh LIPI.
 
“Analisa Ketua IDRI kurang pas, karena salah membaca data. Hal ini justru menunjukkan perlunya Peraturan Menristekdikti Nomor 20/2017 untuk membentuk budaya dan pola berpikir ilmiah sesuai standar global bagi sivitas dosen. Sehingga tidak ada lagi keliru baca data dan menganalisanya,” tutup Handoko.
 
Keterangan Lebih Lanjut:
- Dr. LT. Handoko, (Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI)
- Nur Tri Aries Suestiningtyas, M.A. (Kepala Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI)
 
Penulis: isr
Editor: nta,lth

Siaran Pers ini disiapkan oleh Humas LIPI
 

Isi viral dari Armstrong F. Sompotan:
 
Produktivitas Dosen Dikti vs Fasilitas Peneliti LIPI"
 
Pengurangan Anggaran Kemenristekdikti hanya berdampak pada Dikti bukan pada Ristek nya? Kita sudah seatap tapi diperlakukan beda. Tinjau Tunjangan Fungsional Peneliti LIPI, Peneliti Pertama LIPI yg notabene sama dengan Asisten Ahli Dosen Tunjangannya melampaui Lektor Kepala. Lihat pengurangan Dana Penelitian 2017 utk Dosen Dikti? Pengurangan Anggaran Kemenristekdikti hanya berdampak pada Dikti bukan pada Ristek nya? Coba bandingkan Anggaran Penelitian Dosen 2017 Rp 150 miliar dengan Anggaran indikatif LIPI 2017 Rp 1,1662 triliun?
 
Bayangkan saja Anggaran 2017 Ditjen Penguatan Riset & Pengembangan yg membawahi DRPM hanya 1,7 T dibanding Anggaran Sekretariat Jendral yg salahsatunya membawahi Puspitek – LIPI sebesar 28,4 T? Bayangkan dari Total 39.73 Total Anggaran Kemenristekdikti sekitar 72% untuk Ristek?
Lalu untuk Dikti dengan Dosen2nya yang juga meneliti disamping mengajar & Mengabdi?
 
Bayangkan Dosen Dikti dengan Kewajiban 3 Dharma (Penelitian, Pendidikan Pengajaran & Pengabdian) kesejahteraannya di bawah Peneliti LIPI yg kewajibannya hanya 1 Dharma (Penelitian)?
Semua berdalih untuk peningkatan Publikasi? Coba Tinjau Produktivitas?
 
Publikasi Dosen Dikti yg berjuang meneliti dgn dana kompetisi bahkan anggaran Pribadi, jauh melampaui Publikasi Peneliti LIPI yg terpaksa meneliti karena Dana wajib peneliti?
 
Bahkan jumlah Publikasi 1 Perguruan Tinggi ITS dengan 1125 orang dosen jauh melampaui jumlah publikasi 1 Lembaga LIPI dengan 9128 org Peneliti? Apalagi dibandingkan dengan publikasi ITB dgn jumlah dosen yg hanya 1294 orang?
 
Bayangkan 9128 org Peneliti LIPI hanya mampu menghasilkan 1906 publikasi? Bandingkan 1294 Dosen ITB yg mampu menghasilkan 6449 Publikasi!
 
5 Peneliti LIPI hanya mampu menghasilkan 1 Publikasi? Berbanding terbalik dgn 1 org Dosen ITB yg mampu menghasilkan 5 Publikasi!
 
Pemangkasan Anggaran 2017 malah berdampak banyak Dosen ITB tidak dapat Dana Penelitian dibanding Peneliti LIPI yg semuanya dapat cos wajib melaksanakan penelitian tapi miskin Publikasi! Mungkinkah ini strategi untuk menurunkan Publikasi Dosen Dikti untuk diimbangi Peneliti LIPI?  Hi.hi.
 
Cita2 setinggi langit meningkatkan Publikasi eh malah Lumbung Publikasi yg dibasmi? Dosen Dikti euy Lumbung Publikasi bukan Peneliti LIPI! 
 
"Dosen Dikti vs Peneliti LIPI. Satu Atap Beda Nasib" Sebuah renungkan yg mungkin dipertimbangkan.
 
Salam Dosen Republik Indonesia.
Ayoo bersuara lantang sekarang! 
 
Dr. Armstrong Sompotan
Ketua Umum Ikatan Dosen Republik Indonesia (IDRI)
 
Source: - Undip Scientific Publications indexed in Scopus (18 October 2016): http://www.undip.ac.id/?page_id=2259&lang=en
- Anggaran indikatif LIPI 2017 Rp 1,1662 triliun http://lipi.go.id/lipimedia/pertahankan-anggaran-riset/16014
- Anggaran Penelitian Dosen 2017 Rp 150 miliar https://m.tempo.co/read/news/2017/01/05/079833017/anggaran-penelitian-dosen-2017-dipangkas-rp-100-m
- Jumlah Dosen Tetap ITB = 1294 : https://dcpusat.itb.ac.id/# 
- Jumlah Dosen ITS = 1125 orang: http://old.its.ac.id/berita.php?nomer=6781
- Jumlah Peneliti LIPI = 9128 : http://pusbindiklat.lipi.go.id/pembinaan-peneliti/data-peneliti/


 
Sumber : Biro Kerja sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Rr Nur Tri Aries Suestiningtyas S.IP., M.A.
Diakses : 14378    Dibagikan :