Suplemen dari Teripang sebagai Salah Satu Solusi Hidup Sehat

 
 
Dalam beberapa dekade terakhir, konsep makanan sehat telah memberikan pendekatan baru dan praktis untuk mencapai kesehatan yang optimal. Salah satu jenis bahan baku makanan sehat tersebut adalah Teripang jenis Stichopus vastus. Namun, teripang jenis itu masih jarang dibudidayakan sehingga ketersediaanya di alam terbatas. Melihat kondisi ini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Oseanografi melakukan kajian lebih dalam terkait pengelolaan teripang dan manfaatnya bagi kesehatan. Dan untuk mengupas hasil kajian tersebut, LIPI menyelenggarakan kegiatan Media Briefing dengan tema “Suplemen Sehat dari Laut untuk Perbaikan Gizi Masyarakat” pada Kamis, 22 Februari 2018 di Media Center LIPI Jakarta.
 
Jakarta, 22 Februari 2018. Teripang atau timun laut termasuk dalam filum Echinodermata yang merupakan salah satu biota laut yang telah dipanen dan diperdagangkan di lebih dari 70 negara di dunia, termasuk Indonesia. “Teripang banyak ditemukan di perairan Indonesia. Secara geografis, perairan Indonesia terletak di antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia yang merupakan habitat terbaik untuk hewan teripang. Sayangnya, budidaya teripang masih belum banyak dilakukan,” terang Dirhamsyah, Kepala Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) LIPI.

Hendra Munandar, Peneliti Balai Pengembangan Bio Industri Laut (BBIL) LIPI mengatakan, spesies teripang mengalami praktik tangkap lebih (overfishing) karena nilai ekonomisnya yang tinggi, volume perdagangan yang besar, dan relatif mudah ditemukan di perairan dangkal. Teripang pasir diambil secara terus menerus dari alam tanpa memperhatikan umur dan ukuran, dari anakan muda sampai dewasa, untuk memenuhi tingginya permintaan pasar. Belum adanya manajemen stok yang baik berdampak pada penurunan populasi di alam di seluruh dunia dan mendorong spesies ini digolongkan sebagai salah satu biota yang terancam (endangered) dalam the IUCN Red List of Threatened Species (Hamel et al., 2013). “Hal ini mendorong perlunya penguasaan teknologi budidaya biota ini untuk mendukung upaya konservasi, usaha budidaya, dan sekaligus penyediaan bahan baku pangan,” ujar Hendra.

Perlu diketahui, Balai Bio Industri Laut (BBIL) LIPI mulai melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan budidaya teripang pasir dalam skala komersial. Melalui penguasaan teknologi pembenihan, panti benih BBIL LIPI telah mampu memproduksi benih secara massal sejak 2015. Selain aspek pembenihan, BBIL LIPI mengembangkan inovasi teknologi budidaya TERBARU untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan teripang. Budidaya TERBARU merupakan teknologi budidaya dengan pendekatan multitrofik yang menggabungkan komoditas teripang pasir, bandeng dan rumput laut Gracilaria sp. (TERBARU) dalam satu tambak.

Hendra menjelaskan bahwa budidaya TERBARU memanfaatkan biota dalam ekosistem tambak. Rumput laut Gracilaria sp. berperan sebagai produsen yang menyerap nutrisi yang berasal dari perairan, pupuk, dan sisa metabolisme biota dalam tambak kemudian mengkonversinya menjadi biomassa melalui proses fotosintesis. Bandeng merupakan omnivora yang memakan partikel tersuspensi, fitoplankton, dan klekap. Sementara teripang pasir berperan sebagai pemakan detritus yang memanfaatkan bahan organik dalam tambak. “Melalui metode ini, daur nutrisi dalam sistem budidaya menjadi lebih efisien, karena biaya pakan dan pengelolaan kualitas air dapat ditekan secara optimal yang akhirnya berdampak pada penurunan biaya produksi,” tambahnya.

Selain lebih ramah lingkungan, budidaya TERBARU juga memiliki produktivitas dan nilai ekonomi yang lebih baik dibandingkan dengan budidaya masing-masing komoditas secara monokultur. Estimasi produktivitas dan pendapatan per tahun untuk lahan tambak seluas satu hektar untuk budidaya TERBARU lebih jika tinggi dibandingkan dengan budidaya monokultur yaitu sebesar 17,5% (monokultur teripang), 422,2% (monokultur bandeng), dan 879,2% (monokultur Gracilaria sp.).
 
Berkaitan dengan potensi teripang, Tutik Murniasih, Peneliti P2O LIPI menjelaskan bahwa teripang memang memiliki bentuk yang kurang menarik, tetapi teripang tetap diminati untuk dikonsumsi. ”Masyarakat saat ini sudah sadar untuk mengkonsumsi makanan yang sehat dari produk alami karena memiliki manfaat fisiologis dan mengurangi resiko terjadinya berbagai penyakit kronis,” jelasnya.
 
Contohnya adalah teripang Stichopus vastus yang tergolong teripang murah. Namun demikian, teripang Stichopus vastus memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk obat dan makanan kesehatan yang bernilai ekonomi tinggi. “Teripang dapat diolah menjadi makanan kesehatan pendamping atau penambah program diet, nutrisi atau kondisi tubuh tertentu dan bukan merupakan pengganti makanan,” ungkapnya.
 
Tutik mengungkapkan, LIPI telah mengembangkan formula suplemen dari teripang dengan warna putih keruh, berbau khas dan berbentuk kental. “Formulasi sediaan dalam bentuk cair mempunyai banyak keuntungan, yaitu kemudahan dalam penentuan dosis, kemudahan untuk ditelan dan pertimbangan bioavailabilitas. Selain itu kandungannya lebih mudah diserap tubuh,” kata Tutik.  

Ia menambahkan bahwa dari hasil analisis organoleptik (bau, warna dan bentuk) menunjukkan penyimpanan pada suhu ruangan dan suhu lemari pendingin selama 24 jam tidak menyebabkan perubahan warna dan bau. “Formula tersebut menunjukkan kestabilan terhadap jamur dan mikroorganisme dan untuk tingkat keamanan formula, analisis menunjukkan hasil yang negatif untuk cemaran logam berat,” lanjut Tutik. Bahkan, formula yang dihasilkan memiliki kandungan kondroitin sulfat (500-2000 mg/100g) dan glukosamin (1000-4000 mg/100g). “Invensi ini sedang dalam proses pengusulan paten dan diharapkan dapat menjadi substitusi impor produk-produk sejenis yang saat ini beredar di masyarakat,” pungkasnya.
 
Keterangan Lebih Lanjut:
  • Tutik Murniasih (Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI)
  • Hendra Munandar (Peneliti Balai Bio Industri Laut LIPI)
  • Dwie Irmawaty Gultom (Kepala Bagian Humas, Biro Kerja sama, Hukum, dan Humas LIPI)

Sumber: Pusat Penelitian Oseanografi
Penulis: lyr
Editor: pwd,dig

Siaran pers ini disiapkan oleh Humas LIPI

 
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI diolah dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Dirhamsyah M.A.