Tantangan Pemanfaatan Teripang di Tengah Ancaman Kepunahan

 
 
Teripang merupakan biota laut yang memiliki nilai komersial yang sangat tinggi karena mempunyai potensi sebagai bahan baku obat dan alternatif sumber pangan. Nilai ekonomi yang tinggi menjadi target penangkapan liar di alam bebas, sehingga populasinya di alam menurun. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah memetakan serangkaian riset untuk memetakan sebaran teripang serta pemanfaatannya yang akan disampaikan dalam kegiatan media briefing di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI pada Selasa, 16 Juli 2019 di Jakarta.
 
Jakarta, 16 Juli 2019. LIPI melalui Pusat Penelitian Oseanografi melakukan penelitian dengan tema besar “Biota Terancam Punah”. “Penelitian tersebut bertujuan mendapatkan data-data bio-ekologi, perdagangan dan pengelolaan biota laut terancam punah seperti teripang,” ujar Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Dirhamsyah.

Dirinya mengungkapkan, dalam dua dekade terakhir telah terjadi pergeseran jenis teripang tangkapan (species shifting) yang mengindikasikan bahwa jenis tertentu sudah semakin sulit ditemukan di alam. “Tersedianya data-data bioekologi teripang diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan regulasi untuk melindungi eksistensinya,” terang Dirhamsyah.

Saat ini LIPI melakukan riset teripang untuk mendukung ketahanan pangan melalui pengembangan purwarupa sediaan cair makanan kesehatan menggunakan ekstrak etanol teripang jenis Stichopus vastus  sebesar satu persen untuk satu liter produk. Persentase tersebut menghasilkan kadar mineral yang cukup tinggi, yaitu besi (Fe) sebesar 90,38 mg/kg, kalium (K) 949,2 mg/kg, kalsium 18,2 mg/kg dan natrium (Na) 5647,6 mg/kg, juga termasuk kadar glukosamin sulfat sebesar 4,529 g/100g.

“Purwarupa tersebut berhasil memenuhi syarat yang ditetapkan oleh BPOM yaitu minim kadar mikroorganisme dan tidak mengandung logam berat,” terang peneliti Pusat penelitian Oseanografi LIPI, Ana Setyawati.

Riset lainnya terhadap teripang juga melibatkan jenis Holothuria scabra dan Stichopus noctivagus. “Uji kandungan vitamin menunjukkan bahwa kedua jenis tersebut mengandung vitamin E. Sedangkan uji kandungan mineral diketahui kalsium pada H. scabra adalah yang tertinggi kadarnya, sebaliknya pada S. noctivagus didominasi oleh mineral natrium,” papar Ana.

Untuk teknologi budidaya teripang Balai Bio Industri Laut LIPI di Mataram, Nusa Tenggara Barat telah memulai riset teknologi budidaya teripang jenis Holothuria scabra (teripang pasir) sejak tahun 2011. “Teknologi pembesaran yang dilaksanakan mencakup budidaya di laut dengan sistem sea ranching, budidaya tambak, dan  budidaya pembesaran untuk secara bertahap mengurangi ketergantungan industri perikanan teripang terhadap stok alam,” ujar Muhammad Firdaus dari Balai Bio Industri Laut LIPI.

Dirinya menjelaskan, saat ini, panti benih Balai Bio Industri Laut LIPI  telah mampu menghasilkan 100 ribu ekor anakan setiap tahunnya. “Anakan teripang ini telah dimanfaatkan oleh berbagai pemangku kepentingan untuk kegiatan litbang, kegiatan konservasi, maupun kegiatan usaha budidaya pembesaran,” jelas Firdaus.

LIPI juga mengembangkan budidaya multitrofik yang menggabungkan komoditas teripang pasir, bandeng dan rumput laut Gracilaria sp., yang merupakan jenis rumput laut yang baru  dimanfaatkan di Indonesia, dalam satu tambak. “Melalui berbagai pendekatan dan inovasi dalam budidaya teripang pasir, diharapkan keseimbangan populasi teripang pasir di alam tetap terjaga, sekaligus tetap memenuhi kebutuhan pasar dan mendukung kegiatan pemberdayaan masyarakat pesisir,” tutup Firdaus.
Sumber : Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Dirhamsyah M.A.
Diakses : 152    Dibagikan :