Tantangan Pengembangan Infrastruktur Pariwisata di Tengah Gejolak Nilai Tukar Rupiah

 
 
Pelemahan nilai tukar rupiah terus menjadi isu nasional yang mengemuka. Tren depresiasi rupiah sudah tampak sejak tahun 2011 dan diprediksi secara perlahan akan mempengaruhi devisa nasional. Sektor pariwisata dapat menjadi alternatif  potensial untuk menambah devisa dengan relatif cepat dan bernilai besar. Berdasarkan data World Travel & Tourism Council (WTTC), sektor pariwisata telah menyumbang 313 juta lapangan kerja dan 10,4 persen pemasukan pada Produk Domestik Bruto (PDB) dunia. Keberadaan infrastruktur pariwisata menjadi prasyarat untuk peningkatan laju pertumbuhan sektor pariwisata. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Ekonomi akan menyampaikan temuan riset pertumbuhan ekonomi sektor pariwisata dalam Media Briefing “Tantangan Pengembangan Infrastruktur Pariwisata di Tengah Gejolak Nilai Tukar” pada Rabu, 17 Oktober 2018 di Gedung Widya Graha LIPI Lantai 5, Jakarta Selatan.

Jakarta, 17 Oktober 2018. Sektor pariwisata dinilai menjadi alternatif  sumber pendapat nasional di tengah lesunya perekonomian global. “Akselerasi sektor pariwisata tahun 2012 sampai 2017 berada di angka 1,22 dengan laju tumbuh diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional dibandingkan sektor lainnya,” ujar Kepala Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Agus Eko Nugroho.

Menurut Agus, pola pembangunan service – based economy seperti  sektor pariwisata, mampu memberikan nilai tambah berkualitas dan dampak pengganda yang besar. “Secara paralel, aliran dampak pengganda tersebut akan mengarah pada penguatan permintaan domestik baik sektoral maupun rumah tangga. Artinya, kemanfaatannya bisa langsung dinikmati masyarakat dan memperlancar proses bisnis dari usaha-usaha terkait,” jelasnya.

Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Panky Tri Febiansyah, mengungkapkan keberadaan infrastruktur pariwisata seharusnya mempertegas pentingnya peran pemerintah untuk mendesain strategi  secara komprehensif serta dapat terimplementasi dengan baik. “Terlebih bila hal tersebut  dihubungkan dengan pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus  Pariwisata. Apakah infrastruktur pariwisata saat ini sudah cukup tersedia dan layak?,” ungkapnya.

Dirinya menjelaskan, desain pembangunan pariwisata yang berdaya saing secara komprehensif harus mencakup  pilar infrastruktur fisik, sumberdaya manusia, keuangan dan pembiayaan, serta tata kelola. “Dimensi tersebut diharapkan bisa menjadi patokan terwujudnya sektor pariwisata berkualitas baik sebagai sumber pendapatan alternatif serta menjadi identitas bangsa di tingkat global,” pungkasnya.

Keterangan Lebih Lanjut:
  • Kepala Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Agus Eko Nugroho 
  • Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Panky Tri Febiansyah 
  • Humas LIPI, Retno Darwanti 
penulis: puslit ekonomi/rdn
editor:fza
Sumber : Biro Kerjasama, Hukum dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Dr. Agus Eko Nugroho S.E.M.Appl.Econ.
Diakses : 208    Dibagikan :