Teknologi Bioremediasi dan Revegetasi untuk Penyelamatan Lingkungan

 
 
Laju industri dan makin meningkatnya aktivitas manusia memberikan dampak buruk pada lingkungan. Makin peliknya masalah lingkungan seperti pencemaran sungai, sampah yang tidak tertangani, dan lahan kritis akibat penambangan membutuhkan adanya teknologi tinggi untuk menyelamatkan lingkungan sebelum terlambat. Penerapan teknologi bioremediasi dan revegetasi diyakini menjadi solusi penyelamatan lingkungan.
Untuk menjawab berbagai permasalahan lingkungan, Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyelenggarakan International Symposium on Bioremediation, Revegetation, Biomaterial and Conservation (ISBIOREV-2018) pada Kamis-Jum’at, 27-28 September 2018 di Gedung Kusnoto, Bogor, Jawa Barat.
 
Jakarta, 27 September 2018. Masalah lingkungan menjadi bom waktu  untuk kehidupan manusia. Sebagai pengemban tugas negara di bidang penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, LIPI memberi perhatian khusus untuk riset bioremidiasi dan revegetasi sebagai solusi penyelamatan kerusakan lingkungan. “Bioremediasi adalah pemanfaatan mikroorganisme untuk membersihkan senyawa pencemar dari lingkungan,” jelas Kepala Pusat Penelitian Biologi, LIPI, Witjaksono. Sementara revegetasi, lanjut Witjaksono, merupakan upaya pemulihan tutupan lahan pada ekosistem melalui penanaman jenis tanaman asli pada fungsi lindung atau dengan jenis tanaman lain yang adaptif.
 
Penyelenggaraan ISOBIOREV-2018 menghadirkan ahli-ahli teknologi bioremidiasi dan revegetasi terkemuka di dunia. “Mereka akan membahas aspek adaptasi sistem remediasi dan revegatasi terhadap perubahan iklim, perspektif internasional tentang teknologi hijau, dan faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan bioremediasi dan revegetasi di berbagai wilayah di dunia,” ungkap Witjaksono.
 
Salah satunya adalah teknik revegetasi menggunakan  interaksi antara mychorrhiza dengan tumbuhan tingkat tinggi oleh Norihiro  Shimamura.  Ahli revegetasi dan ektomikroiza dari Tottori University, Jepang ini berhasil mengawinkan Ektomikoriza sehingga interaksinya dengan tanaman akan menyebabkan tanaman  lebih tahan terhadap salinitas dan kondisi ekstrim. Sedangkan Toshiaki Umezawa, profesor dari RISH Kyoto University, Jepang menyajikan teknik pemanfaatan lahan kritis terutama alang-alang untuk produksi energi berbasis biomasa.
 
Sementara dari Nanyang Technological University, Prof. Ng Wun Jern menyajikan teknologi terkini dalam pengolahan limbah di Singapura dan bagaimana menghubungkan riset dan aplikasinya di lapangan. Dari LIPI  diwakili oleh Prof. Dr. I Made Sudiana yang membahas peran mikroorganisme dalam proses bioremediasi dan  revegetasi yang telah diterapkan di  lahan tambang, lahan marginal dan tumpahan minyak di laut.
 
Menurut Witjaksono, penerapan teknologi bioremidiasi dan revegetasi membutuhkan kerjasama jaringan riset antara akademisi, pemerintah, dan industri. “Kombinasi ilmu pengetahuan dan kemampuan teknis dari industri serta kebijakan manajerial yang strategis akan menghasilkan inovasi penyelamatan lingkungan yang efektif dan berkelanjutkan di semua lini,” jelasnya.
 
Keterangan Lebih Lanjut:
  • Dr. Ir. Witjaksono,M.Sc (Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI)
  • Prof. Dr. I Made Sudiana,M.Sc (Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI)
  • Lyra Vellaniza F  (Humas LIPI)
Penulis: Puslit Biologi,rdn
Editor: fza

Sumber : Biro Kerjasama, Hukum, dan Humas LIPI

Sivitas Terkait : Prof. Dr. I Made Sudiana M.Sc.
Diakses : 365    Dibagikan :