Tiga Buku Hasil Studi Klaster Keluarga dan Kesehatan LIPI

 
 
Keluarga merupakan unit sosial terkecil dalam masyarakat yang menjadi tempat bagi seseorang individu untuk belajar bersosialisasi. Sebagai miniatur dan embrio berbagai unsur sistem sosial manusia, kondisi keluarga dapat memengaruhi kualitas sebuah masyarakat. Mengingat keluarga adalah wahana pendidikan yang pertama dan utama dalam tumbuh kembang individu (baik secara fisik, psikologis, maupun sosial), maka Studi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2015-2019 telah melakukan riset klaster keluarga dan kesehatan yang menghasilkan tiga publikasi buku. Ketiga buku tersebut berjudul ‘Remaja dan Perilaku Berisiko di Era Digital: Penguatan Peran Keluarga’, ‘Menuju Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak: Inovasi dan Upaya Daerah’, dan ‘Lansia Sejahtera: Tanggung Jawab Siapa?’  Untuk mengetahui lebih dalam terkait studi ini, LIPI melalui Pusat Penelitian Kependudukan bekerja sama dengan Yayasan Pustaka Obor Indonesia menyelenggarakan acara daring Bedah Buku “Klaster Keluarga dan Kesehatan”, pada Selasa, 6 Juli 2021 pukul 14.00 - 15.30 WIB via zoom meeting dan Live Youtube pada https://s.id/Live_BedahBukuKeluarga2021
 
Jakarta, 5 Juli 2021. Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI Herry Jogaswara mengungkapkan, LIPI telah melakukan studi Klaster Keluarga dan Kesehatan, yang mana Tim Peneliti telah membagi tiga kelompok penelitian penduduk, yakni remaja, ibu-anak, dan lanjut usia (lansia). “Studi menunjukkan, penguatan peran keluarga sangat penting untuk membentengi remaja dari melakukan perilaku berisiko di era digital”, tegas Herry. Selanjutnya, juga meningkatkan kesehatan ibu-anak termasuk terkait permasalahan stunting, serta meningkatkan kualitas hidup lansia.
Untuk itu, Herry menuturkan bahwa upaya penguatan peran keluarga tersebut juga perlu didukung adanya kebijakan dan program yang saling bersinergi dan integrasi, baik pada level nasional maupun daerah. ”Dalam Grand Design Pembangunan Kependudukan 2015-2035, pembangunan keluarga dicantumkan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional. Hal ini didukung secara eksplisit berdasar Undang-Undang 52/2009 yang menyatakan bahwa pembangunan keluarga adalah upaya mewujudkan keluarga berkualitas yang hidup dalam lingkungan sehat,” ungkap Herry.

Zainal Fatoni, peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI menjelaskan perkembangan remaja dan keluarga di era globalisasi ditandai dengan perkembangan pesat teknologi, komunikasi, dan informasi digital. Ia telah melakukan studi selama lima tahun (2015-2019) di Kota Medan, Surabaya, dan Mataram. Dirinya merinci, survei  terkait interaksi remaja dan keluarga terhadap 401 remaja 15-24 tahun di Kota Medan menunjukkan sebagian responden mempunyai kendala sulit berkomunikasi dengan Ayah 25,8% dan Ibu 8,7%. “Ditengarai sebagian besar responden tidak pernah membicarakan isu perilaku yang sensitif, seperti: pornografi, penyakit kelamin, perundungan, narkoba, dan seksualitas dengan orang tua mereka,” ungkapnya. “Salah satu rekomendasi yang ditulis dalam buku ini adalah pentingnya integrasi dalam implementasi kebijakan dan program terkait remaja dan keluarga,” tambah Zainal

Selanjutnya, Widayatun, peneliti Pusat Penelitian Kependudukan LIPI menjelaskan bahwa buku yang ditulisnya berisi upaya dan inovasi daerah dalam meningkatkan perilaku kesehatan ibu dan anak, yakni pada masa kehamilan, persalinan dan pasca persalinan, serta pengasuhan anak. “Survei terhadap 400 ibu di Kota Medan pada 2017 menunjukkan 88% responden mengaku didampingi oleh suami pada saat melakukan pemeriksaan kehamilan. Namun, baru separuh 50,9% responden didampingi suami pada saat melahirkan anak terakhir mereka,” sebut Wida. “Dari 137 ibu yang memberikan ASI eksklusif kepada anak terakhirnya, juga baru 38,8% di antaranya yang menyebutkan bahwa mereka memperoleh dukungan dari suami,” tambahnya.

Deshinta Vibriyanti, peneliti P2K, dalam bukunya, memberikan uraian lebih lanjut terkait kedudukan lansia di dalam keluarga dan kebijakan pemerintah. “Dengan keterbatasan implementasi kebijakan di tingkat daerah, keluarga dalam hal ini memiliki peran yang krusial dalam peningkatan kualitas hidup lansia,” tutur Deshinta. Bukti empiris melalui hasil penelitian di tiga lokasi: Kota Medan, Surabaya, dan Mataram juga turut disajikan dalam buku ini. “Hasil survei terhadap 400 lansia di Kota Medan pada 2017 menunjukkan 86,4% mengaku memiliki kualitas hidup yang baik. Faktor peran keluarga dan interaksi dengan lingkungan sosial turut memengaruhi kualitas hidup Lansia,” lanjut Deshinta.
Sebagai informasi, webinar ini turut menghadirkan tiga penanggap: (1). Woro Srihastuti Sulistyaningrum, Direktur Keluarga, Perempuan, Anak, Pemuda dan Olahraga, Kedeputian Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan, Bappenas; (2). Lalu Makripuddin, Plt. Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, BKKBN; (3) Erna Mulati, (CMFM) Direktur Kesehatan Keluarga, Dirjen Keehatan Masyarakat, Kementerian Kesehatan.
 


Sivitas Terkait : Dr. Herry Jogaswara MA
Diakses : 355    Dibagikan :